Muhammadiyah: Tenaga Kesehatan Covid-19, Pasien dan Orang Dengan Gejala Corona Boleh Tidak Puasa

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan bahwa ibadah puasa Ramadan tetap wajib dijalankan bagi umat Islam meski di tengah wabah Covid-19. Namun, kewajiban tersebut dikecualikan bagi orang yang sakit dan lemah seperti pasien Covid-19, atau orang yang mengalami gejala infeksi virus tersebut.

Menurut Haedar Nashir, tenaga kesehatan juga diperbolehkan tidak berpuasa demi menjaga kekebalan tubuh saat bertugas. “Maka dapat tidak berpuasa dan mengganti di waktu lain. Begitu juga bagi pasien Covid-19 yang tidak bisa berpuasa dapat mengganti puasa lain waktu atau membayar fidyah sesuai yang ditentukan syariat,” ungkap Haedar Nashir melansir Tempo, kemarin.

Tuntunan atau pedoman ibadah puasa Ramadan mengenai tenaga kerja yang diperkenankan tidak berpuasa tersebut juga disampaikan kembali oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar dalam pernyataan resminya pada Minggu, 14 Maret 2021.

Syamsul menegaskan kewajiban melaksanakan puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh.

Tuntunan tersebut berdasarkan terbitan edaran nomor 03/EDR/I.0/E/2021 tentang Tuntunan Ibadah Ramadhan 1442 H/2021 M dalam Kondisi Darurat Covid-19 sesuai Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Diizinkannya tenaga kesehatan saat bertugas tersebut demi menjaga kebugaran tubuh, sehingga daya tahan tubuh tidak melemah, sekaligus dalam rangka mawas diri berhati-hati agar tidak tertular virus dari Pasien Covid-19 yang mana lebih riskan terjadi penularan saat daya tahan tubuh seseorang melemah.

Aturan tersebut berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 71, yang memerintahkan hambanya untuk mawas diri dan waspada.

QS An Nisa: 71

“Wahai orang-orang beriman, berlaku waspadalah kamu!’ (QS an-Nisa’: 71)

Selain itu, berdasarkan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, kewajiban boleh tidak berpuasa juga dikecualikan bagi yang orang sakit dengan kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik sehingga dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan jiwa, terutama bagi pasien Covid-19.

Menurut Syamsul, pengecualian tersebut juga termasuk bagi orang yang terindikasi atau mengalami gejala infeksi Covid-19, karena orang tersebut tergolong sebagai orang yang mengalami sakit.

“Mereka mendapat rukhsah meninggalkan puasa Ramadhan dan wajib menggantinya di hari yang lain sesuai dengan tuntunan Al Qur’an kalau memang diperlukan mereka tidak berpuasa agar kondisi tubuh tetap fit,” kata Syamsul.

Tuntunan tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah ayat 195 yang mengandung larangan mencelakakan diri sendiri dengan menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan. Bagi orang yang positif Covid-19 dikhawatirkan mengalami penurunan daya tahan tubuh saat melakukan puasa yang bisa berakibat fatal hingga kematian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 195

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 195)

Menurut Syamsul, dalam praktiknya, agama Islam memudahkan pemeluknya dan tidak memberati sehingga terjauh dari mudarat yang tidak diinginkan. Termasuk dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. “Dalam pelaksanaan agama memiliki asas memudahkan, dan tidak menimbulkan mudharat,” tegasnya. [ind]

Sumber: Indopolitika.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *