Risma Marah Lagi! Sebut Penyelewengan Bansos di Kota Tangerang Parah

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pungutan liar (pungli) dana bansos yang terjadi Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, membuat Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (Risma) sangat marah.

Berdasarkan pemantauan Risma, penyelewengan uang rakyat itu telah membuat penyaluran bansos di Kota Tangerang tercoreng oleh ulah oknum pendamping penerima bansos dari Kementerian Sosial (Kemsos) itu.

“Jadi kayaknya (Kota Tangerang) ini paling berat pelanggarannya, karena sebetulnya yang pertama kartu harusnya dipegang penerima manfaat, tapi ini dipegang sama pendampingnya. Kalau kartu itu dipegang oleh orang lain (pendamping). Kemudian PIN-nya juga ada di situ gimana penerima bansos tahu mereka dapat bansos kalau memang pendampingnya nggak jujur,” tutur Risma.

Yang kedua, lanjut Risma, semestinya kalau ada transaksi begitu harus saling tahu sama tahu, bukan kemudian seseorang yang mengoperasikannya.

“Menurut saya yang paling berat, dan itu yang sebenarnya juga hampir sama kita temukan di wilayah lain,” kata Risma.

Salah seorang warga, Aryanih sebagai penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) mengaku dimintai uang kresek sebesar Rp 50.000 oleh pihak tertentu yang terkait dengan program bantuan yang ia terima dari Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut.

“Seharusnya ibu tidak mau dimintai uang kantong kresek atau apa pun namanya oleh pihak tertentu, sebab hak ibu penuh dan tanpa pemotongan sedikit pun. Ibu jangan takut saya jamin ya, jadi tulis surat soal ini kepada saya, ” tandas Mensos.

Hal serupa dirasakan oleh Maryanih, sebagai penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tapi harga barang komponen yang diterima tidak sesuai atau tidak genap Rp 200 ribu per bulan.

“Tadi sudah dihitung oleh Bapak yang dari Satgas Pangan/Mabes Polri harga dari komponen yang diterima hanya Rp 177 ribu dari yang seharusnya 200 ribu jadi ada Rp 23 ribu. Coba bayangkan Rp 23 ribu dikali 18,8 juta,” tandas Mensos.

Para penerima BST, BPNT/Program Sembako dan PKH diminta membantu pemerintah agar bantuan bisa sampai kepada penerima manfaat dan tidak ada tindak pemotongan oleh pihak siapapun.

“Tolong bantu kami untuk mengetahui apakah ada pemotongan atau tidak, kalau gini-gini terus tidak bisa selesai urusannya dan kapan warga mau bisa sejahtera,” kata Mensos.

Sebelumnya, Mensos menemui dan berdialog dengan warga yang sedang antri pencairan BST dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) di Jalan H Diran RT 08/RW 01, Gg Rawa 1, Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Di lokasi pencarian BST tersebut tercatat 110 warga penerima BST.

“Kita harus berusaha agar berdaya dan tidak selamanya menjadi penerima bansos. Misalnya di Kota Surabaya itu ada namanya kampung kue dan kampung lontong yang memang fokus membuat kue dan lontong, ” kata Mensos.

Tidak hanya itu, Mensos pun memotivasi agar penerima bansos mau berubah melalui program kewirausahaan seperti beternak ayam dan memelihara ayam petelur.

“Saya selalu semangat memotivasi masyarakat agar mau berubah melalui program usaha produktif di antaranya beternak ayam maupun memelihara ayam petelur yang hasilnya bisa untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ucap Risma. [rif]

Sumber: Indopolitika.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *